ISLAM MENGEMBALIKAN ESENSI SENI

By : Al Habib Hamid Bin Ja’far Al Qodri

Manusia tercipta dengan ciptaan yang indah, setiap sendi yang terdapat pada manusia dapat merasakan keindahan. Lima indera yang ada pada manusia senantiasa mencari dan merindukan keindahan bahkan ruh yang disebut dengan indera keenampun selalu memburu keindahan. Mata selalu ingin memandang benda yang cantik, hidung senantiasa senang dengan bau-bau harum, mulut suka dengan makanan dan minuman yang lezat, telinga juga ingin mendengar hal-hal yang indah, dan kulit yang menempel pada tubuh pun selalu merindukan keindahan dengan meraba hal-hal yang halus dan lembut. unsur terpenting selain jasad yang ada pada manusia (baca:ruh) juga selalu mencari keindahan. Karena tabiat manusia secara fitrah tercipta dari keindahan, sehingga sesuatu yang wujud di muka bumi ini memancarkan cahaya keindahan. Sesuatu yang membawa pada keindahan inilah yang disebut dengan seni yang dalam bahasa Arabnya disebut dengan fan atau adab . Dengan demikian jasad, akal, dan jiwa manusia dapat merasakan keindahan.

ALAM, HIDUP, MANUSIA, DAN SENI
Alam tercipta dengan segala keindahannya, disitu ada kehidupan dengan segala bentuknya. Disana juga ada manusia, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, dan semacamnya. Kalau direnungi secara seksama semua makhluk yang ada di muka bumi ini diciptakan untuk kemaslahatan manusia dalam menjalani hidup. DR. M. Said Ramadlan al-Buthi menjelaskan panjang lebar dalam masalah ini. Beliau mencontohkan binatang kecil diciptakan sebagai konsumsi binatang yang lebih besar, sedangkan binatang yang lebih besar tersebut diciptakan untuk kemaslahatan binatang yang lebih besar lagi, begitulah seterusnya sehingga dapat memberi sebuah kesimpulan bahwa; air, bumi, binatang, tumbuh-tumbuhan dan semua yang wujud di dunia ini tercipta untuk kemanfaatan dan kemaslahatan manusia, sedang semua unsur yang ada pada manusia dan kehidupan membutuhkan keindahan atau seni. Maka setiap sesuatu yang wujud di muka bumi ini memancarkan cahaya keindahan. Dari itulah Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan . Dunia adalah ciptaan Allah yang tentunya mengandung keindahan dan seni, dan oleh sebab itulah timbul bermacam-macam seni. Kita akan menemukan seni berhubungan dengan Tuhan, seni interaksi dengan alam semesta, seni bergaul dengan sesama manusia, dan macam-macam seni lainnya. M. Rabi` Annadwiy berpendapat bahwa seni tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bahkan seni itu sendiri merupakan gambaran dari kehidupan. Seseorang yang memperhatikan seni, maka akan tampak padanya segala bentuk kehidupan. Dia akan melihat alam, hidup, dan segala bentuknya. Ketika kita tidak sempat melihat kehidupan ini secara langsung maka kita bias melihatnya dari cermin yang berupa seni. Dengan seni seseorang bisa memahami hidup dan merasakan cahayanya. Dan seni itu sendiri sangat luas sebagaiman luasnya hidup .Sedangkan menurut Muhammad Iqbal, seni itu dapat membangkitkan kehidupan orang-orang yang mendekatinya. Dan membangkitkan semangat, himmah serta kebahagiaan hidup akan tampak di wajahnya . Begitulah hubungan antara hidup dan seni. Dengan seni hidup bisa dinikmati, alam terasa bersahabat, dan suasana akan bersinar. Hanya saja, keindahan seperti apakah yang bisa dinikmati dan disebut dengan seni? Apakah setiap yang lezat boleh kita makan? Setiap yang indah dan cantik boleh kita pandang? Setiap yang harum boleh kita cium? Setiap yang lembut dan halus boleh kita sentuh, karena semua itu adalah keindahan? Disinilah kita harus memahami hakikat keindahan.
PENJERNIHAN SENI
Setiap orang bebas untuk mengekspresikan keinginannya dalam meraih keidahan, apapun cara dan akibatnya. Itulah pandangan sebagian orang tentang seni, sehingga dengan alasan seni segala sesuatu halal baginya. Sebab menurut mereka keindahan tidak akan tercapai kalau terkekang dengan sesuatu yang lain. Dari itulah muncul istilah seni hanya untuk seni. Madzhab ini dikenal dengan madzhab wujudi, yaitu madzhab yang menghalalkan segala cara demi seni. Madzhab ini sama sekali tidak mau terkekang dengan aturan-aturan agama. Kata-kata seronok ataupun menampakkan aurat selagi melambangkan dan membawa pada keindahan, maka hukumnya boleh. Tidak hanya itu ekspresi yang bersifat merugikan pihak lain pun boleh menurut mereka asal terbungkus dengan seni. Contoh semacam ini pernah terjadi pada beberapa satrawan dan seniman Arab yang membela novel Ayat-ayat setan karya Salman Rusydi. Padahal mereka tahu bahwa novel ini berisi ejekan dan hinaan terhadap agama mereka. Namun karena terbungkus dengan baju yang bernama seni, maka mereka tidak mempermasalahkan dan bahkan membelanya.
Kasus semacam ini juga terjadi di Indonesia. Tarian yang mengundang birahi yang notabene berakibat merusak moral dan budaya bangsa, menurut sebagian orang sah-sah saja, karena semua itu bagian dari seni. Pelecehan terhadap simbol-simbol agama pun tidak dipermasalahkan karena hal itu adalah seni. Dalam masalah ini filosof dan sastrawan muslim Muhammad Iqbal memberi pemahaman yang jelas mengenai seni. Dia berkata, “mencari keindahan adalah seni” . Pemahaman Iqbal mengenai seni ini berawal dari pemahamannya tentang cinta dan keindahan. Sedang cinta dan keindahan yang sempurna dapat terwujud dengan kesempurnaan akal, jiwa, dan jasmani.
Abdurrahman Tayyib Bu`kaer Senada dengan Iqbal mengenai keindahan, menurutnya kicauan burung itu indah. Bunga-bunga yang bertebaran juga indah, akan tetapi keindahan bukan pada semua itu, ia hanya segi dari beberapa segi keindahan. Sedangkan hakikat keindahan adalah kesehatan jasmani, kejernihan akal, dan kelurusan akhlak . Jadi ukuran keindahan tidak hanya diukur oleh perasaan jiwa, akan tetapi akal juga tidak boleh dikesampingkan. Sehingga dengan semua itu kebutuhan manusia bisa terpenuhi, baik kebutuhan ruh, akal, dan jasmani.
Adapun kenikmatan yang merusak moral dan mengganggu orang lain jelas bertentangan dengan akal dan tidak bisa diterima oleh jiwa, sebab keindahan tersebut berasal dari hawa nafsu. Sedangkan hal yang berasal dari hawa nafsu difatnya fata morgana yang tidak berhak disebut dengan seni, oleh karena itulah Muhammad Iqbal berkata “ satu-satunya seni yang indah adalah seni yang membangkitkan ruh, mengilhami keberanian, membari wahyu dengan angan-angan, dan mengajarkan hidup mulya. Sedangkan seni yang merusak jiwa, melemahkan semangat kerja, melemahkan jati diri, dan menjadikan kita budak. Seni itu tidak lain adalah seni syetan ” .
Lebih jelas lagi DR.Muahmmad said Ramadhan al-Buthi yang menganggap bahwa pemikiran seni hanya untuk seni adalah pemikran rapuh yang tidak beralasan, sebab pemikiran seperti ini sama dengan mengatakan bahasa hanya untuk bahasa , seni pada kenyataannya tidak lebih dari bahasa dalam mengunkapkan sesuatu dibalik seni itu sendiri, kalau bahasa adalah sarana untuk mengungkapkan arti yang dibawa maka senipun adalah sarana untuk mengungkapkan keindahan.
Seni tidak akan mempunyai arti kecuali apabila membawa sebuah pemikiran, sama seperti bahasa yang tiada membawa makna. Sehingga bahasa yang tidak berarti sama dengan diam. Senipun demkian, keindahan akan terungkap dari pemikiran yang dibawanya, sehingga dengan itulah timbul berbagai aliran dalam seni. Dan orang yang beranggapan bahwa nilai seni itu berasal dari dzat seni itu sendiri sama seperti halnya orang yang berkata bahwa bahasa sama dengan diam. Selanjutnya al-Buthi mencontohkan seorang sastrawan terkenal asal mesir yaitu Mustafa Hammam di saat terlibat dalam perdebatan dengan orang-orang yang beranggapan seni hanya untuk seni, beliau menulis sebuah puisi yang penulisnya sendiri sama sekali tidak memahami maksudnya, karena puisi ini memang ditulis tanpa arti. Setelah puisi itu dimuat oleh salah satu media massa, komentar timbul dari sana sini, ada yang mendukung, mengkritik, dan ada yang memberi catatan komentar. Sedangkan penulis puisi itu tertawa menyaksikan puisinya yang tanpa arti dikomentari banyak orang. Mungkin untuk membela orang-orang itu terlintas dalam benakku sebuah pemikiran tentang mereka, kata buthi. Hidup manusia bila tidak mempunyai tujuan maka akan timbul sebuah kebingungan, sehingga kebingungan itu sendiri menjadi sebuah tujuan. Setelah mereka sadar dari kesalahan Mustafa Hamman mereka berkata, “kami juga bisa bertepuk tangan sebab dari itu kami menemukan penemuan baru yaitu kebingungan menjadi sebuah tujuan .

AGAMA DAN SENI
Pemikiran apakah yang sesuai dan dibenarkan oleh seni? Bisakah agama beradaptasi dengan seni? Masihkah cahaya keindahan terpancar dari seni disaat agama mengikatnya? Pertanyaan semacam inilah yang dijawab oleh Dr. Najib Kailani dalam salah satu bukunya, beliau menjelaskan bahwa agama sama sekali tidak bertentangan dengan seni. Karena agama seseorang adalah sesuatu yang berada dalam jiwa dan akalnya. Sedang ideologi seseorang tidak bisa lepas dari kenyataan hidupnya. Sedangkan seni merupakan ungkapan dari jiwa, apapun bentuk seni itu, baik itu sastra, seni lukis, gambar, cerita, atau pun yang lain-lainnya. Jika dua perkara ini dibandingkan maka ditemukan satu persamaan yaitu bahan dari keduanya satu, yaitu kehidupan dan jiwa kemanusiaan. Sasaran dari seni adalah keindahan dan kenikmatan, sedangkan sasaran agama adalah kebahagiaan manusia, sedangkan keindahan adalah bagian dari kebahagiaan. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pertemuan agama dan seni terletak pada tujuannya yaitu membawa dunia lebih baik dan utama . Tuduhan bahwa seni bertentangan dengan agama, menurut Kailani berasal dari sangkaan bahwa seni itu kebebasan dan halalnya segala sesuatu, serta menyangka bahwa agama itu kaku dan klasik . Padahal dari penjelasan di atas kita memahami bahwa seni yang menghalalkan segala cara itu adalah seni yang fatamorgana, itupun kalau kita menganggapnya seni. Dengan demikian agama dan seni harus selalu pro aktif dalam menciptakan norma-norma yang terpuji. Karena dengan itulah nilai sebuah seni akan tampak.

SENI ISLAMI
Dalam penjelasan di atas kita telah mengerti tentang hakekat seni, yaitu sarana untuk meraih keindahan. Dalam hal ini Islam sebagai agama fitrah tentu menempatkan seni pada posisi yang semestinya. Karena Islam tidak memerangi keindahan dan tidak membunuh kebutuhan logika dan biologis, akan tetapi Islam mengatur dan mengembangkan sesuai dengan tuntunan hidup dan alam. Dengan demikian Islam mempunyai aturan sendiri mengenai seni. Seni dalam Islam masuk dalam kategori pemikiran Islam yang mempunyai tujuan jelas dengan manusia, hidup, dan alam. Seorang seniman muslim sangat meyakini dengan kaidah “Udkhuluu fissilmi kaaffah”, masuklah dalam agama Islam secara keseluruhan. Sehingga tidak ada pemisah antara seni dan Islam. pemikiran semacam ini dapat kita temukan dalam karya-karya cendekiawan muslim seperti Muhammad Qutubh dalam bukunya Manhajul fan al-Islam, Anwar al-Jundi, Dr. Najib al-Kailani, Abul Hasan an-Nadawi dan lain-lain. Definisi seni Islami dibangun atas tujuan dan sasaran seni Islam itu sendiri, yaitu seni yang dibangun untuk mengembangkan dan memperbaiki alam, hidup, dan manusia. Islam sendiri bukanlah agama yang hanya mengajarkan ibadah, namun Islam adalah agama yang luas dan mencakup semua sendi kehidupan. Dan Islam tidak bertentangan dengan apapun dari kehidupan ini kecuali hal yang merusak kemaslahatan hidup manusia dan perasaan indahnya. Islam menolak segala sesuatu apabila bertentangan dengan sesuatu berarti sesuatu itu termasuk hal yang menghancurkan kemaslahatan manusia yang tentu tidak manusiawi . Jadi, tidak ada kesulitan dalam mengekspresikan seni dalam Islam. tidak ada penghalang bagi seni untuk mencapai tujuannya. Oleh sebab itulah Sayyid Abdul Hasan an-Nadawi mendefinisikan seni Islam dengan “ekspresi seni yang menuju alam, manusia, dan kehidupan, sesuai dengan pemahaman Islam” . Mustofa Shodiq ar-Rafii mendefinisikan seni islami dari pemahamannya yang qur’ani dengan definisi “kemuliaan di hati umat” lebih jelasnya beliau berkata, “kiblat seni dimana aku menghadap padanya dalam jiwa ketimuran dan dalam agama dan keutamaannya. Aku tidak menulis kecuali sesuatu yang membuatnya hidup, semangatnya bertambah, dan tujuannya luhur, keutamaan dan keistimewaannya mungkin terlihat dalam kehidupan. Dari itulah aku hanya menyentuh seni yang termulya . Inilah letak perbedaannya antara seni islami dan yang tidak islami yaitu menjaga kehidupan dan memperhatikan sifat manusiawi. Membedakan hal manusiawi dan tidak manusiawi. Sedangkan seni yang tidak islami sama sekali tidak memperhatikan kepentingan alam, hidup, menerobos kemana saja, seakan seperti binatang liar yang tidak membedakan antara yang jernih dan yang keruh, antara baik dan buruk, dan tidak membedakan buah yang harum dan buah yang busuk. Sedangkan seni islami tidak suka membuka aurat, tidak membangkitkan sampah kecuali dalam tujuan tertentu dan terbatas. Hal ini karena seni islami ruhnya dihembuskan oleh Islam, cahayanya terpancar dari perjalanan hidup sebaik-baik manusia, sedangkan seni yang tidak islami ruh dan jiwanya timbul dari hawa nafsu manusia dan ganasnya binatang buas .

KARAKTERISTIK SENI ISLAMI
Seni islami mempunyai ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh seni yang tidak islami. Konsiten: Seni islami selalu istiqomah dalam melaksanakan ajaran Islam. keindahan sebuah seni dalam Islam timbul dari akhlak, sehingga keindahan yang tidak mencerminkan akhlak adalah keindahan semu. Karena dalam Islam akhlak harus didahulukan dari keindahan. Dari itulah konsisten terhadap ajaran agama menjadi keharusan dalam seni islami. Karena dengan itu keindahan menjadi seimbang, dan hal ini bukan berarti membatasi kebebasan seorang seniman, akan tetapi mengarahkan imajinasi dan jiwa para seniman pada imajinasi dan keindahan yang sesungguhnya. Bahkan menurut Anwar al-Jundi pemikiran kebebasan seni dengan tanpa memperhatikan etika dan kepentingan umum malah bertentangan dengan prinsip kebebasan itu sendiri . Mengutamakan substansi seni. Dalam seni Islam, nilai sebuah seni dilihat dari substansinya. Meski bentuknya sederhana namun jika dilatar belakangi dengan pemikiran dan akhlak Islami maka itu adalah seni Islam. seni islami juga tidak memperhatikan siapa yang membawa. Bila ada orang yang membawa pemikiran dan sesuai dengan tuntutan Islam, maka dia adalah seorang seniman, meski tidak diembeli ketenaran nama dan semacamnya. Hal ini adalah bagian dari prinsip Islam undzur ma qola wala tandzur man qola (lihatlah apa yang dikatakan dan jangan melihat orang yang mengatakan). Mempunyai tujuan yang jelas. Seperti yang telah kita singgung di atas, bahwa seni islami mempunyai tujuan yang jelas dalam berkarya dan mengekspresikan seni. Tujuan seni islami sifatnya luas, baik berupa ibadah, pengabdian, perjuangan, dan semacamnya.

KEISTIMEWAAN SENI ISLAMI
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa seni islami mempunyai keistimewaan sendiri yaitu :
Membangun. Baik bersifat pribadi, alam, dan masyarakat. Berbeda dengan seni yang lain, yang hanya memprioritaskan kepentingan sesaat, meski kadang harus mengorbankan ideologi dan orang lain. Hal ini karena Islam tidak menganggap sebuah kebebasan bila ada yang terkorbankan.
Luas. Islam adalah agama luas mulai dari urusan pribadi, masyarakat sampai negara, Islam mempunyai aturan yang jelas. Sehingga apapun yang berkaitan dengan kehidupan, Islam selalu memberi jalan yang terbaik. Dari itulah para sahabat berkata, “Rasulullah meninggalkan kita sebuah jalan yang terang, malamnya seperti siang dan dalam setiap urusan hidup disitu ada seni yang tentu telah di gariskan oleh Islam. Amanah. Dalam sebuah seni dan lainnya, amanah adalah bobot utama. Karena dengan itulah hakikat sesuatu akan tampak. Berbeda dengan seni yang tidak islami yang kadang terjadi pengkhianatan intelektual. Dalam seni islami kemurnian nurani selalu dikedepankan. Sehingga hal yang berasal dari hawa nafsu dan kepentingan sesaat tidak mempunyai tempat. Terjadinya pengkhianatan seni disebabkan tidak memperhatikan norma-norma agama. Dalam sejarah tercatat beberapa orang seniman dan sastrawan Islam modern yang kualitas seninya diakui oleh si bodoh sekalipun. Namun karena terjadi pengkhianatan intelektual dan seni namanya redup di depan publik. Siapa yang tidak kenal sastrawan mesir Mustafa Sodiq Rafi’i? orang yang baru kenal sastra arab tentu mengakui kualitas Mustafa ar-Rafi’i. namun karena dia konsisten dengan agamanya, namanya tidak pernah diperingati. Berbeda dengan Toha Husein, seorang sastrawan sekuler pengagum barat yang namanya selalu diangkat oleh media massa hingga saat ini. Padahal kualitas sastranya tidak seberapa kalau dibanding Mustafa ar-Rafi’i. Di era 50 an media massa juga mengelu-elukan satrawan muda yang liberal, akan tetapi setelah dia konsisten dan istiqomah pada ajaran agamanya namanya menjadi redup dan nyaris tak terdengar. Dialah Kholid Muhammad Kholid, padahal kualitas sastranya tidak berkurang dan bahkan semakin matang dan mantap. Inikah kebebasan seni? inikah seni modern? Seorang yang berakal tentu dapat membedakan mana seni sejati dan mana yang semu.

KESIMPULAN
Seni adalah sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia secara fitrah, dengan seni manusia bisa bergairah, hidup menjadi indah, dan alam penuh dengan cahaya. Akan tetapi bila kebebasan seni dibungkus oleh hawa nafsu dan keindahannya dikhianati oleh kepentingan yang tidak bertanggung jawab, maka seni menjadi kotor dan keruh. Disinilah Islam menjawab untuk menjernihkan kembali nilai indah sebuah seni, dengan pekerti yang membangun. Allah itu indah dan menyukai keindahan.

PENUTUP
Kesempurnaan seni islami perlu dipelihara dan dikembangkan oleh intelektual dan pemikir muslim masa kini, karena kalau tidak, seni islami berada diujung kehancuran menghadapi dunia global dan politik publik. Disinilah ulama kontemporer harus mampu menjawab tuntutan zaman mengenai seni, dengan merumuskan fiqih seni. Disamping itu para pemuda muslim dituntut untuk menciptakan seni-seni baru yang sesuai dengan ajaran Islam sebagai solusi dari maraknya propaganda pihak yang tidak bertanggung jawab dengan dalih seni. Wallahu `alam

Referensi
Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf `Audul Hindi
DR. M. Said Ramadlan al-Buthi, Kubral yakiniyat
Muahammad Rabi` Annadwiy Adabul Islami wa silatuhu bil Hayat
Sayyid Abdul Majid al-Ghuri, Diwan Muhammad Iqbal
Lihat Abdurrahman Tayyib Bu`kaer `Anaqid wa Fan Arab
Dr.M. Said Ramadhan al-Buthi Hadihi Musykilatuhum.
Majalah Adab Islami edisi 26
Majalah Adab Islami edisi 33
Majalah Adab Islami edisi 49
Majalah Adab Islami edisi 50
Mustofa Sodiq al-Rafii. Wahyul Qalam
Mustofa Sodiq al-Rafii, Sahabul ahmar
Anwar al-Jundi, al`audah ala al Manba’
Muhammad Qutubh, Manhaj fan al-Islami